Ads 468x60px

Sabtu, 30 April 2011

Review Premis Samuel P Huntington (part II)

Dalam bukunya yang berjudul The Clash Of Civilizations dan The Remaking Of The World Order, Samuel P Huntington (1996), menyebutkan sekurang-kurangnya ada 6 alasan yang ia pakai sebagai premis, untuk menjelaskan mengapa politik dunia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh benturan antar peradaban.

a). Review Terhadap Premis Huntington Yang Ketiga, Keempat dan Kelima

Dalam tulisannya tentang The Clash Of Civilizations (benturan antar peradaban), Huntington mengajukan tesis dalam kalimat sangat tegas : ”Menurut Hipotesis saya,, “sumber utama konflik dunia baru tidak lagi ideologi atau ekonomi, tetapi budaya”. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik dominan. Negara-negara akan tetap menjadi aktor paling kuat dalam percaturan dunia, tetapi konflik politik global yang paling prinsipil akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok karena perbedaan peradaban mereka. Benturan peradaban akan mendominasi politik global.”

Secara lebih luas, Huntington mendasarkan pemikirannya – paling tidak – pada enam alasan yang dijadikannya sebagai premis dasar untuk menjelaskan mengapa politik dunia ke depan akan sangat dipengaruhi oleh benturan antar peradaban.
Pertama, perbedaan peradaban tidak hanya nyata, tetapi sangat mendasar. Selama berabad-abad perbedaan antarperadaban telah menimbulkan konflik paling keras dan paling lama. Kedua, dunia ini sudah semakin menyempit sehingga interaksi antara orang yang berbeda peradaban semakin meningkat. Ketiga, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial diseluruh dunia telah mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari akar-akar identitas-identitas lokal yang telah berlangsung lama. Kecenderungan ini menyisakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh identitas agama, seringkali dalam gerakan berlabelkan “fundamentalisme”. Keempat, dominasi peran Barat menimbulkan reaksi de-westernisasi di dunia non-Barat. Kelima, perbedaan budaya kurang bisa menyatukan, dibanding perbedaan politik dan ekonomi. Keenam, kesadaran peradaban bukan reason d’etre utama terbentuknya regionalisme politik atau ekonomi (Huntington, 2002:ix-x).

• Pada premis ketiga, Huntington mengatakan bahwa, proses modernisasi ekonomi dan perubahan social di seluruh dunia telah mengakibatkan tercerabutnya masyarakat dari akar-akar identitas local yang telah berlangsung lama. Ketercerabutan ini menyisakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh identitas agama, seringkali dalam gerakan berlabelkan “fundamentalis”.
Ekspansi Barat mampu menawarkan modernisasi dan westernisasi bagi masyarakat-masyarakat non-barat. Tokoh-tokoh politik dan intelektual dari masyarakat tersebut memberikan reaksi terhadap pengaruh barat satu atau lebih cara : menolak modernisasi dan westernisasi, menerima modernisasi dan westernisasi, menerima yang pertama menolak yang kedua.
Reaksi masyarakat rehadap adanya modernisasi dan westernisasi bermacam-macam, diantaranya penolakan (rejectionisme). Jepang merupakan Negara yang hanya menerima bentuk-bentuk modernisasi tertentu, seperti penggunaan senjata api sedangkan agama Kristen, sangat dibatasi. Cina juga melakukan penolakan atas modernisasi dan westernisasi.
Kemalisme, merupakan bentuk reaksi masyarakat non barat terhadap modernisasi dan westernisasi yang dilakukan oleh barat. Bentuk ini mengatakan bahwa modernisasi dan westernisasi dibutuhkan dan perlu, bahwa kebudayaan pribumi tidak dapat disepadankan dengan modernisasi dan harus ditinggalkan atau dibuang, dan bahwa masyarakat harus sepenuhnya terbaratkan supaya dapat mengikuti arus modernisasi. Modernisasi dan westernisasi masing-masing saling menopang dan harus berjalan secara beriringan.
Reformisme. Penolakan terhadap modernisasi dan westernisasi menjadikan masyarakat yang terbelakang tenggelam di tengah-tengah kancah dunia modern. Di jepang terdapat Wakon, Yosei: “semangat Jepang, teknik barat”. Di Mesir, Muhammad Ali “berusaha melakukan modernisasi tanpa budaya eksesif westernisasi”.
Pada fase-fase awal perubahan, westernisasi menawarkan modernisasi. Pada fase-fase akhir, modernisasi menawarkan de-westernisasi dan kebangkitan kebudayaan pribumi melalui dua cara. Pada tataran social, modernisasi mendorong kea rah kemajuan dalam bidang ekonomi, militer dan politik dari suatu masyarakat secara keseluruhan dan membangkitkan keyakinan diri penduduk setempat terhadap kebudayaan mereka sendiri, sehingga secara cultural mereka percaya diri. Pada tingkatan individual, modernisasi menggerakkan perasaan terasing dan anomie, yang dapat melepaskan ikatan-ikatan tradisional dan hubungan-hubungan social serta mengantarkan pada KRISIS IDENTITAS yang jawabannya hanya dapat ditemukan dalam agama.




Modernisasi sebagai anak kandung reinasans di Eropa, bukan hanya menawarkan mekanisasi produksi untuk meningkatkan hasil ekonomi. Akan tetapi membawa paradigma mekanistik dalam memandang manusia. Sehingga mengantarkan manusia pada jurang dehumanisasi, dimana akar spiritual dicerabut pada kemanusiaan.
Sementara disisi lain, berdasar logika oposisi biner modern-tradisional, maju-terkebelakang, barat-timur, rasional-irasional dan dikotomi lainnya, budaya barat memposisikan non barat sebagai terkebelakang dan mesti dimodernisasi. Dari pintu inilah, westernisasi membonceng di modernisasi.
• Pada premis keempat, Huntington mengatakan bahwa semakin berkembangnya kesadaran peradaban akibat peran ganda dunia barat. Disatu sisi dunia barat sedang berada pada puncak kekuasaannya, disisi lain, sebagai reaksi balik dari hegemoni dunia barat tersebut, kembalinya masyarakat non barat pada akar-akar peradabannya.

Barat merupakan kekuatan yang dominan dan akan tetap menjadi kekuatan nomor satu serta paling berpengaruh di sepanjang abad ke 21. Perubahan-perubahan yang berifat gradual dan fundamental tampaknya juga terjadi di dalam peradaban-peradaban lain, sehingga kekuatan barat dihadapkan pada tantangan berbagai peradaban tersebut dan terus mengalami kemerosotan. Seiring dengan semakin merosotnya pengaruh barat, sebagian besar kekuatannya dengan sendirinya memudar dan masyarakat-masyarakat non barat mulai saling bersatu dengan berpijak pada landasan regional-peradaban masing-masing Negara.

Dominasi barat akan berakhir, dan sementara itu Negara-negara non barat sedang melakukan proses pribumisasi dan kebangkitan kebudayaan secara global. Ketika pengaruh barat mulai menurun, para tokoh muda yang penuh dengan semangat tidak alagi dapat melihat adanya jalan untuk meraih kesejahteraan dan kakayaan melalui barat. Mereka harus menemukan jalan menuju keberhasilan, dengan cara mengakomodasi nilai-nilai serta kebudayaan sendiri, di dalam masyarakat mereka sendiri.

Pada proses pribumisasi, generasi kedua bersikap lebih adaptif. Seperti Mohammad Ali Jinnah, harry Lee, dan Solomon Bandaranaike. Disaat sedang terjadi perubahan identitas-identitas: nama-nama dan cara berpakaian, kepercayaan-kepercayaan mereka kembali kepada nenek moyang mereka sendiri.

Dalam masyarakaat Islam, terkenal dengan kebangkitan islam dan re-islamisasi. Di India terdapat penolakan-penolakan terhadap bentuk-bentuk serta nilai-nilai barat, dan terjadi “hinduisasi” dalam kehidupan social politik. Di Asia Timur, kalangan pemerintah menawarkan konfusianisme, para tokoh politik dan kalangan intelektual berbicara tentang Asianisasi.

• Premis kelima, Karakteristik dan perbedaan cultural yang terjadi diantara peradaban barat dan non barat semakin mengeras. Hal ini menyebabkan semakin sulitnya kompromi dan upaya-upaya perbaikan hubungan diantara perbedaan dan kerangka cultural dibandingkan upaya mengkompromikan karakteristik dan perbedaan politik serta ekonomi.

Ketika pengaruh barat mulai mengalami kemerosotan, Negara-negara di Asia menegaskan nilai luhur kebudayaannya atas kebudayaan barat. Mereka mengalami perkembangan kemajuan yang sering disebut dengan afirmasi Asia. Sikap-sikap yang kompleks ini memiliki empat komponen utama.

Pertama, masyarakat Asia, yakin bahwa Asia timur akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat serta mampu melampaui barat. Karena bangsa Asia akan menjadi bangsa yang memiliki posisi yang kuat di tengah kancah dunia. Kedua, masyarakat Asia yakin bahwa keberhasilan ekonomi ini merupakan hasil kebudayaan Asia, yang lebih unggul dari barat. Ketiga, meskipun masyarakat Asia mengakui adanya perbedaan-perbedaan diantara mereka dengan perbedaan masing-masing, tetapi mereka juga mengakui terdapat kesamaan-kesamaan signifikan. Keempat, masyarakat Asia Timur berkeyakinan bahwa perkembangan yang terjadi di Asia dan nilai-nilai yang dimiliki oleh masyarakat Asia serta berbagai pola kebijakan yang diterapkan oleh masyarakat non-barat lainnya digunakan untuk menandingi serta mengejar ketertinggalan dari barat yang harus diadopsi supaya dapat dilakukan pembaharuan.

Bagaimanapun juga, kita mengakui adanya perbedaan yang cukup mendasar antara barat dengan non-barat. Perbedaan tersebut, terlihat dari berbagai macam dimensi, seperti social, budaya, ekonomi dan juga politik. Perbedaan-perbedaan tersebut, tidak seyogyanya harus dianggap sebagai sebuah ancaman. Karena, sebenarnya apa yang dilakukan barat terhadap non-barat bukanlah semata-mata hegemoni budaya, namun lebih dari itu sebuah hegemoni kekuasaan yang sangat besar untuk menguasai Negara-negara non-barat.

b). Solusi Konkrit atas pemikiran atau kekhawatiran Huntington tersebut
Sebagai sebuah bangsa dan Negara yang memiliki cirri khas kebudayaan masing, maka yang terbaik adalah untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang kita yang mungkin saja jauh lebih baik dari budaya barat. Jika kita tidak ingin akar-akar identitas cultural kita tercerabut maka sebaiknya kita tetap berupaya mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai budaya local.

Adanya perbedaan budaya tidak kita pungkiri dari sejak dahulu kala. Perbedaan itu ada bahkan dimulai sejak manusia itu ada dan berbudaya. Upaya melakukan homogenisasi atas budaya bukanlah sebuah solusi yang saya anggap tepat, karena homogenisasi hanya akan menyebabkan bangkitnya budaya-budaya local masyarakat. Bagaimanapun juga masyarakat pasti akan tetap mempertahankan identitas cultural mereka, karena itu merupakan harga diri mereka.

Justeru yang perlu kita koreksi adalah, benarkah upaya modernisasi dan segala produknya yang dilakukan oleh barat semata-mata untuk kemakmuran semua bangsa? Tidakkah itu hanyalah sebuah media atau cara yang dilakukan oleh barat dalam rangka menghegemoni masyarakat non barat agar menjadi budak-budak mereka. Terlebih lagi modernisasi lebih membawa agenda ekonomi (kepentingan) dibandingkan upaya “peradaban”.

Saya, sulit sekali memberikan solusi untuk premis Huntington tersebut. Karena saya sendiri masih meyakini bahwa setiap bangsa, Negara dan juga masyarakat memiliki budaya tersendiri yang tak mungkin tersatukan. Hal lain yang justeru menurut saya sangat penting untuk dievaluasi adalah, apakah tujuan barat melakukan modernisasi? Mengapa ada imprealisme budaya? Mengapa harus ada westernisasi? Dimana kesemua hal itu justru menjadi pemiciu bagi bangkitnya nilai-nilai pribumi, seperti Revivalisme Islam, renaisans cultural, Hinduisme, Asianisme dan sebagainya. Seharusnya barat melakukan re-evalusi atas apa yang mereka lakukan selama ini, karena “ekspansi westernisasi dan modernisasi yang mereka lakukan lebih sebagai hegemoni dan politik kepentingan, daripada upaya memeradabkan suatu bangsa”. Perlu dianalisa mengenai asumsi dasar dari Huntington yang mengatakan factor utama penyebab benturan antara peradaban adalah masalah perbedaan kebudayaan, namun justeru menurut saya penyebab utamanya adalah konflik kepentingan yang dimotori oleh barat.

Oleh karena itu, hal yang paling penting adalah adanya pengahrgaan atas suatu budaya terhadap budaya lain, tanpa memaksakan masyarakat atau bangsa lain mengikuti tradisi budaya mereka “barat” yang dianggap lebih baik. Selain itu, kepentingan imprealisme budaya yang dilakukan oleh barat, harus disikapi dengan bijak oleh masyarakat non barat dengan tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya local dan akar-akar identitas mereka. Sehingga masyarakat non barat akan tetap mempunyai jati diri dan identitas yang mandiri tanpa “ikut-ikutan” budaya bangsa lain secara keseluruhan.
c). Apakah mekanisme “akulturasi” antar bangsa (etnis) akan mampu meredakan ketegangan-ketegangan sebagai akibat dari “benturan antar peradaban” yang dikhawatirkan oleh Huntington.
Seperti yang telah beruangkali diuraikan diatas, bahwa setiap masyarakat, bangsa dan juga Negara memiliki karakterisktik budaya yang berbeda, dan itu mereka identitas mereka. Sehingga sangat sulit sekali untuk melakukan apa yang dikenal dengan homogenitas budaya.
Setiap orang memiliki keseberagaman identitas yang dapat mengikat dan memperkuat hubungan anatara satu dengan yang lain, asal usul, tempat tinggal, pendidikan, golongan, kesamaan cultural, institusional, territorial, ideologis dan sebagainya. Oleh karena itu, homogenitas budaya, dan keterikatan hubungan hanya bisa dilakukan secara parsial. Karena sangat sulit sekali untuk melakukan homogenitas cultural secara universal. Terlebih di zaman ini, adalah sulit sekali untuk memaksakan suatu kehendak terhadap orang lain. Karena persoalan iidentitas memiliki arti yang sangat penting bagi setiap orang.
Yang perlu dilakukan saat ini menurut saya, adalah bahwa setiap Negara harus mengahargai budaya orang lain dengan tidak menganggap bahwa budayanyalah yang lebih tinggi sehingga harus diterima dan diadopsi oleh masyarakat, bangsa atau Negara lain. Selama hal itu dilakukan, maka benturan antar peradaban tidak akan terjadi.
Melakukan akulturasi budaya memang sebuah solusi. Namun, yang paling penting dari semua itu adalah penghargaan terhadap nilai-nilai budaya lain. Bahkan seperti yang dikatakan oleh Huntington sendiri dalam bukunya:
“Pelbagai perbedaan yang terdapat dalam ideologi-ideologi sekuler, antara marxis-leninisme dan demokrasi liberal, setidak-tidaknya dapat dinegosiasikan dan tidak jarang dikompromikan. Hal itu, dalam konteks persoalan-persoalan cultural tidak mungkin dapat dilakukan. Umat Hindu dan Muslim di Ayodhya dihadapkan pada persoalan mengenai pada apakah mereka harus membangun sebuah kuil atau masjid, yang kemudian mendapat alternative pemecahan dengan cara membangun keduanya, atau tidak membangun keduanya, atau sebuah bangunan sinkretis sebuah masjid sekaligus kuil.” (Huntington, 2002:226).

0 komentar:

Posting Komentar

footer Post 2