Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Hasil Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasil Penelitian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2011

Ketersediaan Pangan Petani Tetelan : Hasil Penelitian Sanenrejo (3)

Jika diamati dari data di atas maka sesuatu yang paling dibutuhkan oleh petani adalah adanya sebuah lembaga yang bisa memberi modal utuk menanam, baik itu modal benih, pupuk, obat dan sebagainya serta sebuah lembaga yang dapat menyalurkan hasil panen mereka. Masyarakat petani tetelan sebenarnya sudah terbiasa dengan pola-pola seperti itu, sehingga peluang untuk mendirikan lembaga yang berfungsi sebagai pemberi modal dan penyalur hasil panen sangat besar. Namun, terdapat sebuat kendala yang cukup besar dan harus dipecahkan adalah bagaimana cara menyiasati agar tidak terjadi konflik anatara pemilik modal atau tengkulak dengan para pelanggannya (petani).
Selama ini para pemilik modal dan para tengkulak hanya bisa memanfaatkan petani, memeras tenaga petani, dengan menuntut sesuatu yang lebih tanpa ada keinginan timbal balik untuk meningkatkan kasejahteraan petani. Oleh karena itu, untuk menyikapi hal tersebut dibutuhkan sebuah lembaga yang dapat mengakomodir seluruh aspek yang diperlukan oleh masyarakat petani, mulai dari penyediaan modal, proses pengolahan, penyemaian, penanaman, perawatan, pemanenan, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran produk pertanian yang dihasilkan kepada konsumen dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat petani.
Salah satu lembaga yang bisa mengcover seluruh aspek yang tersebut diatas adalah sebuah BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) yang sering disebut juga sebagai Balai Usaha Mandiri Terpadu. Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) ini merupakan suatu lembaga terpadu yang memadukan antara Baitul Maal sebagai lembaga Sosial dan Baitul Tamwil sebagai lembaga Bisnisnya. Lembaga yang mempunyai badan hukum koperasi ini sering disebut sebagai Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) yang intinya koperasi pengelolaannya menggunakan pola syariah.
Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) mempunyai landasan operasional yang tentu berbeda dengan koperasi simpan pinjam pada umumnya. Selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan ketentuan yang berlaku dalam BMT ini kita dapat bebas untuk bermuamalah. Bentuk hasil usaha dalam BMT berupa sistem bagi hasil dan margin jual beli barang. Selain itu dalam BMT Uang bukan sebagai komoditi, tetapi hanya sebagai alat tukar. Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) dapat istiqomah di masyarakat jika modalnya cukup, manajemennya terorganisir dengan baik, pengelolanya amanah, professional, dan dapat dipercaya masyarakat, serta program berkelanjutan yang telah direncanakan dapat direalisasikan dengan sebaik-baiknya. Melihat keunggulan yang ditawarkan oleh Baitul Maal Wa Tamwil (BMT), masyarakat khususnya petani akan lebih nyaman melaksanakan transaksi simpan pinjam. Baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun kebutuhan untuk melaksanakan kegiatan produksi pertaniannya.

Ketersediaan Pangan Petani Tetelan : Hasil Penelitian Sanenrejo (2)

Pada masyarakat pertanian khususnya di sekitar taman Nasional Meru Betiri, terdapat berbagai macam lembaga. Lembaga-lembaga tersebut diantaranya lembaga-lembaga keagamaan, lembaga-lembaga pendampingan atau pelatihan, dan lembaga-lembaga pemberi modal. Setiap lembaga mempunyai peran dan fungsi tersendiri dalam masyarakat. Lembaga Tahlilan, Yasinan dan Dibaan misalnya, mempunyai fungsi yang lebih besar kearah fungsi kerukunan, dan fungsi keagamaan. Walaupun terkadang dalam lembaga ini terdapat fungsi informasi dan juga finansial, namun tidak sebesar lembaga-lembaga yang lain. Hal itu karena lembaga-lembaga ini lebih terfokus pada kedua fungsi tersebut diatas.
Lembaga-lembaga swadaya masyarakat, juga mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam masyarakat petani. Khususnya peran sebagai lembaga pendamping masyarakat, yang berfungsi memberikan pelatihan-pelatihan, support informasi, maupun fungsi penyelesai permasalahan dalam masyarakat sebagai anggota kelompok tani. Selaiin itu, terdapat kelompok petani TOGA, dimana kelompok ini berperan dalam proses pengemasan hasil tanaman TOGA yang kemudian dipasarkan.
Kelompok PKK, lazimnya merupakan kelompok perkumpulan ibu-ibu yang sering mengadakan pertemuan setiap bulan sekali. Peran dari lembaga ini biasanya berperan sebagai lembaga penyalur informasi dan juga memberi pelatihan keterampilan bagi anggota-anggotanya. Terkadang dalam lembaga ini terdapat arisan atau tabungan, namun pada masyarakat petani tetelan, tidak berjalan dengan lancar. Hal ini hampir sama dengan lembaga yasinan dan tahlilan yang juga terkadang terdapat arisan dan tabungan, hanya saja pada masyarakat petani tetelan, mereka sering mengalami kekuarangan dana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka kesulitan apalagi untuk arisan atau menabung. Akan tetapi, tiap desa mengalami perbedaan kemampuan finansial. Pada masyarakat Sanenrejo, tingkat perekonomian mereka rendah dan cenderung menengah kebawah. Bebrebda dengan masyarakat desa Curahnongko dan Andongrejo.
Selanjutnya, terdapat lembaga informal yang cenderung eksis dimasyarakat, yaitu kelompok pemilik modal dan pengepul/tengkulak. Lembaga ini mempunyai kelebihan dibanding dengan kelompok lainnya. Hampir di setiap wilayah pertanian di Indonesia dijumpai adanya pemilik modal dan tengkulak yang mengambil beberapa fungsi pengembangan di sektor pertanian secara informal. Fungsi-fungsi pengembangan sektor pertanian yang dimasuki oleh tengkulak dan pemilik modal tidak saja hanya pada fungsi finansial, tetapi banyak fungsi lainnya yang telah diambilnya, yakni :
1. Fungsi Produksi :
Pada fungsi produksi ini tengkulak dan pemilik mengambil peran sebagai penyedia faktor/ sarana produksi pertanian, seperti : menyediakan pupuk, benih, obat tanaman.
2. Fungsi Pemasaran :
Hasil panen tanaman jagung, kacang tanah, kacang ijo, maupun kacang tunggak, umumnya dibeli oleh pengepul/tengkulak atau pemilik modal yang kemudian oleh tengkulak dan pemilik modal disalurkan ke luar kota atau luar pulau dan juga ke pasar-pasar lokal.
3. Fungsi Finansial :
Segala kebutuhan finansial untuk terlaksananya kegiatan usaha penanaman tanaman, perawatan dan pemanenan senantiasa disediakan oleh tengkulak dan pemilik modal. Petani hampir dapat dikatakan bergantung pada tengkulak dan pemilik modal. Para tengkulak dan pemilik modal memberikan bantuan finansial tanpa syarat-syarat tertentu tidak seperti pada lembaga-lembaga keuangan (bank).
4. Fungsi Sosial :
Dikala terjadi musim paceklik atau saat panen tidak berhasil, dan ketika dalam kondisi mendesak, misalnya petani sudah kehabisan stok barang di rumah. Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka banyak mengandalkan pada bantuan tengkulak dan pemilik modal. Bahkan agar dapur mereka bisa mengepul, mereka sering hutang ke pemilik modal ataupun tengkulak.
Hal menarik yang perlu dikemukakan disini adalah mengapa para petani cenderung tidak mau memanfaatkan lembaga keuangan formal (bank) ataupun koperasi, tetapi justru mengikatkan diri pada sistem yang dilakukan oleh tengkulak dan pemilik modal. Seolah-olah telah terjadi adanya ikatan lahiriyah dan batiniyah diantara kedua belah pihak. Apabila diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka peran yang dimainkan oleh lembaga keuangan formal (bank) dan lembaga-lembaga keuangan lainnya hanyalah terbatas pada peran finansialnya saja, itupun menurut petani memerlukan persyaratan yang memberatkan mereka. Di sisi lain, peran yang dimainkan oleh para tengkulak atau pemilik modal adalah meliputi keseluruhan peran (produksi, pemasaran, finansial dan sosial) yang dibutuhkan oleh kelompok masyarakat petani yang membuat mereka “rela” mengikatkan diri pada ikatan yang menimbulkan adanya kebergantungan dan daya tawar yang rendah.

Ketersediaan Pangan Petani Tetelan : Hasil Penelitian Sanenrejo (1)

Pola ketersediaan pangan pada masyarakat petani tetelan dapat dilihat berdasarkan dua aspek. Aspek yang pertama ditinjau berdasarkan musim. Berdasarkan musim, petani membaginya menjadi tiga yaitu musim rendeng/rendengan, kedua musim lemahrengan/lemareng/nemor dan yang ketiga yaitu musim kemarau/ketigo. Pada musim rendengan petani biasanya menanam padi dan jagung, karena intensitas hujan pada musim ini sangat sering maka memudahkan mereka untuk menanam kedua jenis tanaman ini. Selain itu, hasil dari musim ini biasanya lebih baik daripada musim yang lain, sehingga petani cenderung untuk menanam tanaman yang bisa menjadi persediaan hidup satu tahun kedepan.

Disatu sisi sebenarnya jenis tanaman yang ditanam tergantung jenis lahan yang dimiliki. Kondisi pada tanah tetelan tidak sama dengan tanah Ho/HGU, baik itu dari segi kesuburannya maupun tata letaknya. Kesemuanya itu mempengaruhi tingkat hasil panennya. Pada tanah tetelan hanya benar-benar bisa dimanfaatkan pada musim rendeng, sedangkan pada musim yang lain hasilnya jauh lebih berkurang. Terlebih lagi jika tanah tetelan sudah mulai rimbun dengan tanaman pokok/tanaman tegakan. Jika tanaman tegakan sudah mulai tinggi dan rimbun, maka sinar matahari tidak akan bisa menyinari tanaman-tanaman palawija yang ditanam oleh petani. Oleh karena itu, petani sering mengalami dilema yakni antara harus tetap menanam tanaman tegakan dengan konsekuensi tanaman palawija tidak terlalu menghasilkan lagi, atau bermain-main dengan pihak taman nasional dengan cara menanam tanaman tegakan namun dengan intensitas yang sedikit dan jarak yang agak jauh atau bahkan mencabut tanaman tegakan agar tidak tumbuh dengan baik.

Hasil dari musim rendeng yang berupa gabah biasanya disimpan untuk keperluan sehari-hari atau untuk keperluan satu tahun kedepan sampai musim rendeng berikutnya. Sedangkan hasil dari tanaman jagung biasanya dijual untuk membayar hutang, baik itu hutang benih, pupuk, obat dan sebagainya.
Pada musim lemareng/lemah rengan/nemor, petani biasanya menanam tanaman jagung, kacang broll (kacang tanah), kacang ijo, atau kacang tunggak (kacang panjang). Hasil dari musim ini biasanya dijual untuk membeli barang-barang kebutuhan yang diinginkan terutama barang-barang sekunder seperti televisi, sepeda motor dan sebagainya.
Selanjutnya pada musim kemarau/ketigo, kebanyakan petani menganggur, khususnya petani yang hanya mempunyai tanah tetelan saja. Pada musim ini, biasanya mereka hanya membersihkan tanah tetelan saja dan memetik hasil dari tanaman tegakan. Sedangkan untuk petani yang masih mempunyai HO dan sawah
Tanaman yang ditanam pada tanah tetelan
1. Musim rendengan (Tahap I) ditanami padi dan jagung
Tanah yang seluas ¼ ha ditanami dengan 5 kg gabah/padi seharga 15.000/atau 3000 /kg. biasanya para petani memakai benih hasil panen tahun lalu. Kemudian obat padi seharga 15.000 dan pupuk 2 sak, per sak seharga Rp. 90.000 jadi total harga pupuk Rp. 180.000. Total biaya yang diperlukan untuk biaya operasional adalah Rp. 210.000
Dari 5 kg padi tersebut menghasilkan 10 sak gabah atau sekitar 5 kwintal. 1 kw seharga Rp. 200.000, jadi total yang diperoleh sejumlah Rp. 1.000.000 itu didapatkan jika sedang panen (jika subur dan tidak terganggu hama). Jika tidak panen dia mendapat 2,5 kw atau senilai 500.000. Jadi jika sedang panen pendapatan bersihnya dari padi 1.000.000-210.000=790.000. Namun jika tidak panen pendapatan bersih dari padi 500.000-210.000= 290.000.
Sedangkan tanaman jagung (gandum) ditanam di krajakan (pematang atau dipinggir tanaman padi). Untuk krajakan Benih jagung yang ditanam sebanyak 1 kg, biasanya menghasilkan 1 kwintal jagung basah. Jika memakai benih jagung biasa/lokal yang harga perkilonya seharga Rp. 2000 maka akan menghasilkan jagung seharga Rp.200.000 sedangkan untuk biaya operasional seperti pupuk seharga 7500. Jadi untuk hasil dari krajakan bisa mendapat mendapat 192.500.
2. Musim Lemah Rengan/ Lemareng/Tahap 2
Pada musim ini intensitas hujan sudah mulai berkurang, atau kadar air tanah sudah mulai berkurang. Sehingga penduduk lebih sering menanam jagung, kacang hijau atau kacang tunggak.
Pada musim ini petani biasanya menanam benih jagung biasa atau jagung lokal, sebanyak 3kg seharga Rp. 6000. Untuk keperluan pemupukan biasanya memakai pupuk sebanyak 1 sak, seharga 90.000. Benih 3 kg bisa menghasilkan 5-6 kw jagung basah.
3. Musim Kemarau
Pada musim kemarau para petani tidak menanami tanah tetelannya, karena tanahnya kering. Biasanya pada musim ini para petani memanen hasil tanaman tegakannya, jika sudah berbuah.
Tanah HO/HGU
1. Musim Rendengan/Tahap 1, luas 1/8 (sa’wolon)
Pada musim Rendengan tanah Ho ditanami dengan benih padi 4 Kg yang menghasilkan 12 sak atau sekitar 6 kw. Biaya operasional menghabiskan pupuk 2 sak dan obat 1 botol. Karena tidak ada tanaman pokok maka hasilnya lumayan.
2. Tahap Kedua /Lemareng
Pada tahap ini biasanya tanah HO ditanami jagung dan kacang broll (kacang tanah). Jagung (gandum) sebanyak 3 kg dan kacang broll sebanyak 7 kg. 3 kg jagung biasanya menghasilkan 1 ton jagung. Sedangkan 1 kg kacang broll menghasilkan 2-3 kw.
3. Tahap ketiga
Pada tahap ini petani biasanya menanam kacang tunggak/kacang otok. Kalau bisa ngelep (mengairi lahan dengan air dari sumur bor) maka hasilnya lebih banyak. 1 kg benih bisa menghasilkan 50 kg. Hasil dari tanaman padi biasanya tidak pernah dijual. Umumnya disimpan untuk keperluan hidup sehari-hari sampai 1 tahun mendatang.

footer Post 2